Lens

LENS

Lensa pertama yang perlu kita curigai adalah milik kita sendiri.

Kita tidak melihat dunia apa adanya.

Kita melihat dunia melalui ingatan, pengalaman, harapan, ketakutan, kebiasaan, dan hal-hal yang sudah lebih dulu kita percaya.

Itu sebabnya dua orang bisa melihat kejadian yang sama dan pulang membawa kesimpulan yang berbeda.

Dan yang menarik: keduanya bisa merasa sangat masuk akal.

Seorang karyawan mulai minum kopi setiap pagi.

Produktivitasnya naik.

Kopi membuatnya lebih produktif?

Mungkin.

Tapi di minggu yang sama ia juga tidur lebih cukup, pekerjaannya lebih ringan, dan deadline besar baru saja selesai.

kopi mulai diminum

produktivitas naik

Yang kita punya sebenarnya hanya: kopi mulai diminum, lalu produktivitas naik.

Sisanya adalah cerita yang kita bangun untuk menghubungkan keduanya.

Kadang ceritanya benar.

Kadang tidak.

Dan hampir selalu, ceritanya datang lebih cepat daripada pemeriksaannya.

THE INTERESTING PART

Manusia tidak hanya mencari fakta.

Kita juga sangat cepat mencari makna.

Melihat pola. Menghubungkan kejadian. Mengisi bagian yang kosong. Membuat cerita yang membuat semuanya terasa masuk akal.

Kemampuan itu luar biasa.

Tanpanya, kita bahkan akan kesulitan menjalani kehidupan sehari-hari.

Tapi kemampuan yang sama juga bisa membuat kita yakin pada sesuatu sebelum kita punya alasan yang cukup untuk yakin.

SO THE QUESTION IS NOT

“Apakah kita rasional?”

A BETTER QUESTION IS

“Kapan cara berpikir kita bisa menipu kita sendiri?”

AND MAYBE THE MORE IMPORTANT ONE

“Bagaimana kita menyadarinya sebelum kesimpulan berubah menjadi keyakinan?”

THIS IS LIKELY.

Tempat untuk melihat sesuatu sedikit lebih dekat sebelum memutuskan apa yang layak dipercaya.

Bukan karena semuanya harus diragukan.

Dan bukan karena selalu ada sesuatu yang harus dibuktikan salah.

Kadang sesuatu memang benar.

Kadang tidak.

Kadang bukti yang kita punya belum cukup untuk mengatakan keduanya.

Yang menarik adalah apa yang terjadi antara melihat sesuatu dan memutuskan apa artinya.

Apa yang benar-benar kita tahu?

Apa yang kita tambahkan sebagai asumsi?

Adakah penjelasan lain yang sama masuk akalnya?

Dan seberapa jauh bukti yang kita punya seharusnya membawa kita pada sebuah kesimpulan?

Masuk akal bukan berarti benar.

Likely is an independent project by Sandi Yusuf.